7 Kesalahan di Zona E Yang Perlu Segera Dikoreksi

1. Merasa aman dan nyaman.
Pada zona E ini yang populasinya 90% bisa sebagai karyawan di suatu instansi Pemerintah atau Swasta dimana yang bekerja pada zona ini mempunyai atasan, bekerja dengan SOP yang sudah standar, bekerjanya rutin senin sampai jum’at kadang sabtu masuk setengah hari dan kadang hari sabtu atau minggu ada lembur, mendapat gaji tetap dan terbatas (sudah dibatasi). Karena setiap seminggu sekali atau setiap bulan sudah mendapat kepastian hasil maka akan menimbulkan suatu ketenangan hati atau jiwa sehingga “daya inovasi dan kreatifitas” lama kelamaan akan melemah bahkan pada keadaan tertentu akan mati yang dimiliki oleh setiap orang pada zona ini. Sedangkan

hal-hal lainnya yang membuat daya inovasi dan kreatifitas melemah adalah membuat anggaran hidup yang dicukup-cukupkan ( sengaja dibuat pas ). Besar kecilnya gaji itu relatif untuk setiap orang tergantung kebutuhan hidupnya.

2. Pola kerja dan hidup yang statis.
Pola hidup yang serba statis ini terjadi karena pola kerja yang dilakukan setiap hari monoton, mulai bangun pagi berangkat jam sudah ditentukan, lama perjalanan sekian jam, sampai ditempat kerja jam sekian, saat mulai bekerja sudah ada SOP yang baku di instansi tersebut, istirahat siang biasanya jam 12.00-13.00 , jam pulang juga sudah ditentukan biasanya jam 16.00, lama diperjalanan bisa 2-4 jam tergantung kendaraan yang dipakai, jarak yang ditempuh dan kemacetan yang rutin terjadi setiap hari. Sampai dirumah biasanya sudah lelah bahkan stres karena pekerjaan di kantor belum selesai dan seterusnya. Karena sudah lelah maka yang paling sering dikerjakan adalah tidur. “Pola yang statis” ini terjadi berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun yang tentu dapat menimbulkan kejenuhan bahkan kebosanan tapi apa daya tidak dapat berbuat yang lain.

Cashflow-Quadrant Zona E
3. Berkomunitas dengan orang di zona yang sama.
Orang-orang yang berada pada komunitas ini biasanya mempunyai teman tidak jauh dari ruang lingkup tempat kerjanya yaitu pegawai atau karyawan dan ini tidak salah. Semua ini terjadi karena sudah terbiasa seperti pada nomer 1 dan 2, orang lebih cenderung bergaul dengan apa yang dilakukan sama setiap harinya dan ini merupakan hukum alam.

4. Cara berpikir yang kurang terbuka.
Cara berpikir yang kurang terbuka ini sebenarnya bukan bawaan seseorang karena pada hakekatnya setiap orang ingin berkeatifitas dan bersosialisasi dengan banyak orang, tetapi karena beban pekerjaan atau tugas yang diembannya begitu berat yang membutuhkan waktu dan konsentrasi lebih banyak menyebabkan orang tersebut kurang terbuka karena tidak mungkin menceritakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya kepada orang lain. Pola pikir dan pembatasan inilah yang terasah setiap hari, bulan dan bertahun-tahun tanpa disadari akan menjadi orang yang kurang terbuka. Jadi ini polanya sudah terbentuk sehingga menjadi kendala tersendiri bagi orang tersebut.

5. Sensitifitas diri kurang .
Penjelasan pada nomer satu sampai empat ada keterkaitan menyebabkan seseorang kurang sensitive terhadap dirinya, keluarganya, orang lain bahkan lingkungan hidupnya. Orang-orang yang seperti ini cenderung “introvert” (menutup diri) berusaha supaya orang lain tidak perlu tahu tentang hal-hal yang sedang dialaminya setiap hari. Padahal kita perlu share kepada teman atau kenalan yang kita anggap sudah dekat seperti keluarga, siapa tahu ada gagasan baru yang menjadi terobosan atau solusi.

6. Kebal dengan informasi yang positif.
“Kebal atau imun dengan hal-hal yang bersifat positif” sangat berbahaya karena biasanya menganggap dirinya yang paling benar dan tahu sedangkan orang lain salah. Semua ini terjadi karena adanya pergaulan dengan orang yang sama atau itu-itu saja sedang yang lainnya juga mirip dengannya. Jarang membaca buku dan mendengarkan info yang update atau terbaru sehingga pemahaman yang sudah ada akan terakumulasi dan mengendap menjadi pembenaran.

7. Pesimistis ( merasa rendah diri ).
Karena kehati-hatian dalam bergaul dengan komunitas yang berbeda maka biasanya cenderung jadi orang yang pendiam dan tidak banyak bicara bila tidak disapa dulu oleh orang lain. Hal ini bisa terjadi oleh siapa saja dan pola-pola diatas yang tadi sudah diceritakan akan menyebabkan seseorang jadi pesimis, merasa akan bersalah bila ingin menyampaikan sesuatu. Proses menahan bicara yang berulang-ulang dengan pergaulan yang homogen yaitu dengan orang yang sama pekerjaan dan profesinya biasanya akan canggung bila berkomunikasi dengan yang berbeda profesi dengan dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *